Thank Justin (Bieber Short Story)
Bianca
menapakan kakinya tepat di depan pintu gerbang British International School
Jakarta, sekolah barunya. Tidak sering ia melihat sekolah megah dengan segala
fasilitas lengkap seperti sekolah barunya ini. Maklum, sekolah lamanya di Yogyakarta
hanya sekolah swasta biasa. Ia berjalan menelusuri luasnya halaman depan,
lapangan basket yang ada di sekolah itu. Senyumnya mengembang, Bianca mencoba
percaya diri di hadapan orang yang berlalu lalang di sekitanya. Jam tangan
Bianca masih menunjukkan pukul 06.45. Ia berjalan mencari ruang kepala sekolah.
Di sepanjang koridor, Bianca melihat berbagai mading yang ada. Ia kagum akan
karya-karya anak BIS Jakarta ini. Karena terlalu asyik melihat sekeliling,
Bianca tak sengaja menabrak seseorang.
“Ups..sorry. Are you okay?” Tanya lelaki yang baru saja Bianca tabrak, lelaki tampan yang mempunyai mata hazel yang indah itu.
“Yes. Im okay.” Jawab Bianca.
“Ooh, can I ask you something?” Tanya lelaki itu lagi.
“Of course.”
“Where the principal's room? Im a new student in here, my name’s Justin.” Kata lelaki itu yang ternyata bernama Justin.
Bianca terlihat bingung, lalu ia menjawab “Sorry, I don’t know. Im a new student too. Im searching that room too, Justin. How if we search together, maybe?” kata Bianca yang memang tidak terlalu pandai berbahasa Inggris.
“Ohh. It seems the idea is not too bad. Let’s go!” Kata Justin.
Bianca
hanya membalasnya dengan senyuman, sangat manis. Lalu, mereka berjalan
berdampingan. Tak begitu lama, mereka menemukan peta gedung BIS ini. Dengan
semangat Justin dan Bianca mengikuti petunjuk yang tertera di peta itu. Sampai
akhirnya mereka menemukan sebuah ruangan yang di bagian atas pintunya tertulis
tulisan besar “Principal’s Room”. Bianca mengetuk pintu itu. “Can we go in?”
Kata Justin. “Come in!” Balasan seseorang yang ada di dalam ruangan itu.
“Thanks, mister.” Ucap Bianca dan
Justin bersamaan setelah mereka diberi pengarahan tentang sekolah baru mereka
oleh kepala sekolah. Justin dan Bianca berjalan keluar ruangan dan menuju
Chemistry Class diantar oleh Mr. Jordan. Kebetulan pagi ini Justin dan Bianca
mempunyai jadwal kelas bersama.
“Hello
everybody! Attention
a moment. We've got two new
students in chemistry class this
time. Please introduce yourselves.” Kata Mr. Jordan dengan gaya santainya itu.
“Hi, my name’s Bianca Mallette. Everybody can call me just Bianca, it's simple, isn’t it?” Kata Bianca.
“Hello! Let me to introduce myself.” Justin menelan ludahnya karena gugup. Tetapi seluruh kelas, terutama wanita menatap Justin dengan penuh senyuman gembira.
“My name’s Justin Drew Bieber. You can call me only Justin. Because I don’t like to be called ‘Drew’ or ‘Bieber’. Im from Canada. Furthermore please ask later.” Jelas Justin yang tak mau lagi melanjutkan perkenalan pertamanya.
“O..KAY! Any questions?” Kata Mr. Jordan dengan gaya bahasanya itu.
“ME!” Teriak seorang perempuan yang duduk di pojok belakang itu.
“What’s the question?”
“I want to ask….Bianca! Hi, greetings to you. Please explain where you come from. My name’s Jessica.” Kata perempuan itu.
“Okay. Im from Jakarta, but my Junior High School in Yogyakarta. My old school is in Yogyakarta too.” Jelas Bianca.
“Hi, my name’s Bianca Mallette. Everybody can call me just Bianca, it's simple, isn’t it?” Kata Bianca.
“Hello! Let me to introduce myself.” Justin menelan ludahnya karena gugup. Tetapi seluruh kelas, terutama wanita menatap Justin dengan penuh senyuman gembira.
“My name’s Justin Drew Bieber. You can call me only Justin. Because I don’t like to be called ‘Drew’ or ‘Bieber’. Im from Canada. Furthermore please ask later.” Jelas Justin yang tak mau lagi melanjutkan perkenalan pertamanya.
“O..KAY! Any questions?” Kata Mr. Jordan dengan gaya bahasanya itu.
“ME!” Teriak seorang perempuan yang duduk di pojok belakang itu.
“What’s the question?”
“I want to ask….Bianca! Hi, greetings to you. Please explain where you come from. My name’s Jessica.” Kata perempuan itu.
“Okay. Im from Jakarta, but my Junior High School in Yogyakarta. My old school is in Yogyakarta too.” Jelas Bianca.
Setelah
perkenalan pertama di kelas kimia itu, Justin dan Bianca dipersilahkan duduk.
Mr. Jordan pun ternyata adalah guru kimia kelas mereka pagi itu. Karena system
pembelajaran adalah perkelompok dan berhubung Justin baru mengenal Bianca, dia
mengajak Bianca untuk satu kelompok. Lalu mereka mencari 2 orang lain untuk
melengkapi kelompok mereka.
“KRINGGG!! KRINGGG!!” Bunyi bel istirahat tiba.
“Do you want to go to the cafeteria with me?” Ajak Justin kepada Bianca.
“Mmm..okay!”
“KRINGGG!! KRINGGG!!” Bunyi bel istirahat tiba.
“Do you want to go to the cafeteria with me?” Ajak Justin kepada Bianca.
“Mmm..okay!”
Sesampainya
di kafetaria, Justin memesan spaghetti dengan minumnya orang juice dan Bianca
hanya memesan Cappuccino dengan beberapa snack ringan. Yap! Bangku nomer 11
dijadikan tempat Justin dan Bianca istirahat pada break time ini. Tidak lama
kemudian mereka duduk, seorang perempuan cantik dengan kawan-kawannya yang
membuntutinya di belakang menatap Justin dan Bianca dengan tatapan sinis lalu
berkata “You're the new kids huh? Don’t know these
seats are? Go
there! Don’t you dare sit in this place again!” Bentak perempuan
itu.
Akhirnya
Bianca dan Justin mengalah dan duduk di tempat lain.
“Who’s she? So fucking annoying!” Kata Justin memulai pembicaraan.
Bianca hanya tersenyum dan menasihati Justin untuk tetap sabar.
“Anyway, you're right came from Jakarta. That means you can speak Indonesian?” Tanya Justin dengan senyum tipisnya.
“Yeah, right. Why?”
“Teach me how to speak Indonesian. I'm very interested in learning that language, because I think that Indonesian is a weird language. Will you be my tutor indonesian language?”
“Mmm.. how do ya? You need a long time to learn Indonesian language.”
“I'm willing to even longer. Just so you’re my teacher. Hahaha.” Canda Justin.
“Haha, okay. When do we get started?” Kata Bianca yang juga ikut tertawa karena Justin.
“TODAY!!! In my house, maybe?” Pekik Justin saking semangatnya.
“Okay.”
“Btw, your last name is Mallette?” Kata Justin kebingungan.
“Yes. Why you asked me about that?”
“Your last name………..same with my mother’s last name. Why did it happened? Lol.”
“Woaa. Seriously? I want to meet your mom and tell about this. Hahaha not really.”
“Who’s she? So fucking annoying!” Kata Justin memulai pembicaraan.
Bianca hanya tersenyum dan menasihati Justin untuk tetap sabar.
“Anyway, you're right came from Jakarta. That means you can speak Indonesian?” Tanya Justin dengan senyum tipisnya.
“Yeah, right. Why?”
“Teach me how to speak Indonesian. I'm very interested in learning that language, because I think that Indonesian is a weird language. Will you be my tutor indonesian language?”
“Mmm.. how do ya? You need a long time to learn Indonesian language.”
“I'm willing to even longer. Just so you’re my teacher. Hahaha.” Canda Justin.
“Haha, okay. When do we get started?” Kata Bianca yang juga ikut tertawa karena Justin.
“TODAY!!! In my house, maybe?” Pekik Justin saking semangatnya.
“Okay.”
“Btw, your last name is Mallette?” Kata Justin kebingungan.
“Yes. Why you asked me about that?”
“Your last name………..same with my mother’s last name. Why did it happened? Lol.”
“Woaa. Seriously? I want to meet your mom and tell about this. Hahaha not really.”
Sepanjang
waktu istirahat, mereka bersunda gurau. Mereka terlihat bahagia dan mungkin
sama sekali tidak menghiraukan murid-murid BIS di sekitar mereka. Mata Bianca
terpancar kebahagian, begitu pun mata Justin. Seperti tak ada orang yang akan
mengahalanginya. Wajah Justin menandakan bahwa dirinya nyaman atas kehadiran
Bianca, teman barunya itu, begitu pun Bianca.
Justin menekan bel rumahnya. 2 menit
kemudian, seorang wanita yang terlihat masih muda keluar dari rumah minimalis
yang terkesan mewah itu sambil tersenyum heran.
“Hello mom! Can we go in? She’s my new friend.” Sapa Justin kepada ibunya sambil menunjuk Bianca.
“Hi. My name’s Bianca.”
“Ohh, come in! Justin, please deliver Bianca into the living room, I'll make a drink for you and Bianca.” Kata ibunya Justin, yang tak lain adalah Pattie Mallette.
“Hello mom! Can we go in? She’s my new friend.” Sapa Justin kepada ibunya sambil menunjuk Bianca.
“Hi. My name’s Bianca.”
“Ohh, come in! Justin, please deliver Bianca into the living room, I'll make a drink for you and Bianca.” Kata ibunya Justin, yang tak lain adalah Pattie Mallette.
Justin mempersilahkan Bianca masuk
dan menuju ke dalam ruang tamu bersamanya.
“Your house looks beautiful, Justin.” Kata Bianca.
Justin hanya tersenyum. Tak lama kemudian Pattie membawakan dua buah gelas yang bentuknya cukup unik dan bergambar foto Justin yang berisi Hot Chocolate. Pattie kembali ke lantai dua rumahnya setelah membawakan minuman untuk Justin dan Bianca.
“Your house looks beautiful, Justin.” Kata Bianca.
Justin hanya tersenyum. Tak lama kemudian Pattie membawakan dua buah gelas yang bentuknya cukup unik dan bergambar foto Justin yang berisi Hot Chocolate. Pattie kembali ke lantai dua rumahnya setelah membawakan minuman untuk Justin dan Bianca.
Bianca mengajarkan Justin beberapa
arti kata dasar dengan bahasa inggris dan kadang melatih Justin juga berbahasa
Indonesia. Justin tampak bingung tetapi menikmati setiap kata yang keluar dari
mulut Bianca. Justin tersenyum puas lalu berkata “A-a-ku mengeti. Tee-e-rima
Kasih.” Kata Justin yang sudah mulai memakai bahasa indonesia walaupun
terbata-bata dan ada kesalahan kata dia bagian ‘mengerti’. Bianca tertawa
karena intonasi dan pengucapan kata yang diucapkan oleh Justin terdengar sangat
lucu. Tetapi Bianca percaya, Justin dapat dengan cepat mengerti suatu
pelajaran, karena otak Justin cerdas.
Begitu seterusnya, sampai akhirnya
Justin mulai memakai bahasa Indonesia dengan orang sekitarnya, termasuk Bianca
(kalau tidak di sekolah). Bianca dan Justin bersahabat, hingga lama-kelamaan
muncul suatu perasaan yang dialami mereka.
“Bi..” Kata
Justin yang memulai pembicaraan waktu Justin dan Bianca sedang menikmati
weekendnya di rumah Justin.
“Hmm?”
“Ngerasa sesuatu nggak?” Tanya Justin dengan tampang polosnya yang justru membuat Binca ingin terus menatap wajah tampan lelaki berumur 17 tahun itu.
“Maksudnya?”
“Ngg..ngga.. Maksud aku, kamu percaya ngga sama kata-kata orang yang bilang kalo laki-laki dan perempuan gak mungkin bisa sekedar bersahabat karena mereka diciptakan untuk saling tertarik satu sama lainnya?” Tanya Justin panjang lebar yang mempunyai suatu arti dalam setiap perkataannya.
“Aku gak begitu tau jawabannya. Karena menurut aku, kalau kita bersahabat, bersahabat aja, ngga usah mikirin apa kata orang.” Jelas Bianca yang membuat Justin kurang puas dengan jawabannya itu.
“Hmm?”
“Ngerasa sesuatu nggak?” Tanya Justin dengan tampang polosnya yang justru membuat Binca ingin terus menatap wajah tampan lelaki berumur 17 tahun itu.
“Maksudnya?”
“Ngg..ngga.. Maksud aku, kamu percaya ngga sama kata-kata orang yang bilang kalo laki-laki dan perempuan gak mungkin bisa sekedar bersahabat karena mereka diciptakan untuk saling tertarik satu sama lainnya?” Tanya Justin panjang lebar yang mempunyai suatu arti dalam setiap perkataannya.
“Aku gak begitu tau jawabannya. Karena menurut aku, kalau kita bersahabat, bersahabat aja, ngga usah mikirin apa kata orang.” Jelas Bianca yang membuat Justin kurang puas dengan jawabannya itu.
Justin
hanya terdiam dan mengembangkan senyum palsunya. Bianca tau, Bianca tau bahwa
Justin nggak puas dengan jawabannya itu. Padahal jauh di dalam hati Bianca,
Bianca mengerti apa maksud dari pertanyaan Justin dan ia mempunyai jawaban yang
lebih dari sekedar jawaban.
-Acara
outing BIS (Bristish International School)-
“Before we go to
the first goal, let us pray together. Pray, began!” Kata Mr.
Jason memimpin doa. “Finish! Let's ride
the plane, be careful when climbing stairs, and don’t forget to turn off your handphone.”
Jelasnya Mr. Jason.
Karena duduknya diperbolehkan acak,
Justin jelas memilih Bianca untuk duduk disampingnya. Mereka duduk di bagian
tengah. 5 menit kemudian pesawatnya mulai terbang ke atas. Perlahan-lahan
Bianca menutup matanya karena kantuk yang sudah menyerang. Bianca menyenderkan
kepalanya di bahu Justin. Justin sadar dan menoleh pelan-pelan melihat wajah
Bianca yang sudah terlelap. “You’re so pretty when you sleep though.” Kata Justin pelan.
Komentar
Posting Komentar