Mereka Juga Punya Mimpi

Kepulan asap menari-nari mengojek bumi
Terik matahari menyengat kulit ari
Bermodal ukulele tua
Kau lantunkan lagu tak bernada
Nyaring suaramu menyobek gendang telinga
Dengan pakaian lusuh dan kumuh
Kaki beralas aspal dan wajah keruh
Tak pernah mematahkan semangatmu
Demi menyambung hari esok yang tak menentu

Buliran keringat menetes, kau tetap bertahan
Receh demi receh kau kumpulkan perlahan
Untuk menghidupi keluarga dan masa depan
Saat hitam legam cakrawala tiba
Tidurmu hanya beralas bumi beratap langit semesta
Dengan mata terpejam
Melampiaskan lelah yang kejam

Katanya negara kita maju
Katanya negara kita negara hukum dan berilmu
Katanya tiap warga negara kita memiliki hak yang sama
Para pemimpin janji-janji semata
Turunkan derita dan kemiskinan
Tetapi nyatanya malah meningkat tak karuan

Para koruptor menyungging lebar senyumnya tanpa beban
Ia tak pernah tahu
Betapa banyak orang yang lebih membutuhkan uang
Tak punya hati!
Hilang akal mereka!
Apa tak pernah sekalipun terbesit
dalam otak mereka?
Banyak orang telah menunggu bantuan mereka
Lebih baik memberi daripada menerima

Wahai, kawan
Yang berada di bawah jembatan layang
Bersabarlah...
Walau mimpimu berserakan di atas aspal
Walau mimpimu tergilas oleh roda-roda mobil mewah
Jangan pernah takut untuk bermimpi!
Karena mimpi tumbuh bukan untuk dipendam
Tetapi...
Mimpi tumbuh untuk diperjuangkan!

-Aulia Nafitri

Ini puisiku waktu lomba 'Cipta Puisi' beberapa minggu lalu. Maaf kalau masih banyak kesalahan dalam kata-katanya. Baru pemula, hehe. Terima kasih kepada guru bahasa Indonesiaku yang setia membimbing sewaktu belajar menulis puisi, Ibu Mustini. Terima kasih banyak juga kepada mereka, yang telah menginsiprasikanku membuat puisi ini.

Komentar

Postingan Populer